Fikar Homeschooling |
||
| Jenjang | : | Homeschooling |
| Alamat | : | Jl. Lebak Bulus Raya 1 No. 23 Cilandak Jakarta Selatan, 12440 DKI Jakarta |
| Telepon | : | (021) 7666384 / 97924247 |
| : | fikarhomeschooling@gmail.com | |
| Website | : | www.fikarhomeschooling.net/ |

Benarkah alasan tersebut? Tidak semua orangtua sepakat untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah umum.
Banyak alasan, salah satunya adalah kurang bermutunya pendidikan di sekolah-sekolah umum, sehingga terlalu banyak murid yang ditangani guru dalam satu ruang kelas. Ujungnya, penyerapan pelajaran pun tak maksimal.
Pendapat itu memang tidak berlebihan, karena memang di sekolah umum, satu orang guru bisa mengajar 20 bahkan sampai 30 anak dalam satu ruang kelas. Sedangkan diyakini, bahwa kemampuan masing-masing anak dalam menangkap mata pelajaran yang diberikan berbeda-beda.
Home schoolingpun lantas dilirik sebagai alternatifnya. Tidak seperti di sekolah umum, home schooling (sekolah di rumah) ini memiliki konsep yang biasanya satu guru akan menghadapi satu atau dua murid saja. Selain tentu saja lebih bisa ditertibkan, dengan home schooling, anak bisa lebih berkonsentrasi dalam menangkap pelajaran. Mutu mata pelajaran yang diberikan, juga bisa dipilih, sesuai dengan apa yang dibutuhkan anak saat itu.
Walaupun bisa menjaga kualitas pendidikan atau pengajaran kepada anak-anak yang belajar di rumah, bukan tidak berarti pendidikan jenis ini tidak mengalami kekurangan. Salah satu kekurangan yang paling menonjol dari home schooling adalah anak tidak bisa bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.
Kasus seperti inilah yang kemudian menjadi perdebatan hangat di kalangan pengajar serta psikolog anak. Sebab, pendidikan yang berkualitas tidak akan bermanfaat jika anak tidak bisa bersosialisasi dengan teman-teman seusianya.
Untuk mengatasi hal itu, biasanya anak-anak home schooling melakukan aktivitas luar ruang, seperti olahraga, program kepanduan, bakti sosial, atau bahkan kerja sambilan, jika usia mereka sudah cukup remaja.
Praktisi home schooling biasanya mengandalkan dukungan kelompok untuk mendukung dan mengadakan kontak personal dengan keluarga-keluarga yang berpikiran sama tentang home schooling ini. Larry Shyers dari Universitas Florida menulis disertasi doktoral yang mempertanyakan perkembangan sosial anak-anak yang berada di home schooling.
Dalam penelitiannya, anak-anak umur 8?10 tahun direkam dengan video saat bermain. Perilaku mereka diobservasi konselor-konselor terlatih yang tidak dikonfirmasi mana anak-anak yang bersekolah biasa dan mana yang di home schooling. Hasilnya ternyata sangat mengejutkan. Penelitian tersebut menyatakan tidak ada perbedaan besar antara kedua kelompok tersebut tentang konsep diri,walaupun anak tidak bersekolah di sekolah umum.
Tapi yang jelas, rekaman tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang belajar di rumah atau melakukan home schooling dengan orangtuanya secara konsisten tidak banyak bermasalah dengan bakat, kemampuan, dan cara bersosialisasi.
Susan Nelson, seorang pengembang kurikulum dan konsultan home schooling dari Amerika, menyatakan bahwa orangtua akan merasakan tugas-tugas mereka lebih sederhana jika mereka menentukan tujuan utama mengapa mereka menjadi pendidik-pendidik di rumah, termasuk untuk memfasilitasi anak dengan pengalaman-pengalaman belajar yang menarik, atau untuk mempersiapkan anak untuk memasuki sekolah formal.
Seperti pendidikan formal lainnya, home schooling juga bisa mengajarkan berbagai jenis mata pelajaran pada anak-anak, misalnya pada pagi hari anak dapat berlatih bahasa Inggris, bermain piano, dan menulis. Tiap sore anak bisa diajarkan membaca dengan cara pergi ke perpustakaan atau bisa pula melakukan jelajah hutan atau mengamati alam.
"Tidak ada yang salah dari pendidikan di rumah atau home schooling pada anak-anak jika dilakukan dengan benar,? kata psikolog anak alumni Universitas Indonesia (UI), Dr Wiryawan.
Jika di Indonesia orang tua masih sangat takut kalau anak-anaknya tidak mendapatkan ijazah resmi, sejumlah universitas seperti Harvard dan Yale mengizinkan anak-anak home schooling untuk kuliah dan belajar di kampus terkenal tersebut. Bahkan dilaporkan, bahwa siswa-siswa home schooling memenangkan persaingan pendaftaran ke perguruan tinggi favorit.
Tanpa transkrip akademik dari SMU formal, pendaftar dapat mengumpulkan sampel atau portofolio kerja mereka, surat rekomendasi dari orangtua, atau juga guru yang membantu.
Tercatat, 1.657 keluarga home schooling menyatakan bahwa siswa home schooling ingin melanjutkan ke perguruan tinggi: 69 persen responden memilih untuk ambil pendidikan lanjutan sekunder yang formal. Bahkan dari datadata yang ada, siswa home schooling yang dites selalu di atas rata-rata.
"Pola data siswa home schooling mirip siswa dari sekolah swasta favorit. Itu merupakan satu langkah maju bagi dunia pendidikan anak. Asal saja home schooling mereka benar-benar berkualitas," jelas dia.(Koran SI/Koran SI/nsa)
Data belum lengkap.
Untuk Anda pengelola, silakan login lembaga untuk melengkapi profil dari usaha AndaApakah untuk hal yang negatif atau positif jadi kadang sesuatu yang baru memang memiliki banyak tantangannya seperti dengan homeschooling padahal homeschoooling mempunyai berbagai macam tipe pengajaran seperti komunitas atau home visiting yang semuanya dilakukan oleh orang yang profesional seperti layaknya guru disekolah formal dan dikomunitas sendiri adalah tempat untuk anak2 homeschooll berkumpul dan belajar, mereka dapat bersosialisasi satu sama lain karena ada wadahnya seperti :
FIKAR HOMESCHOOLING yang komunitasnya berada di jl. Lebak Bulus raya 1 no.23 jadi bukan berarti dengan homeschooling anak jadi mandek dalam hal pergaulannya malahan mereka memiliki lebih banyak waktu bersosialisasi ditempat lain untuk menyalurkan bakat ,minat atau hoby yang mereka dapatkan di komunitas2 seperti club musik, club olah raga ,club hoby yang sama dan perkumpulan2 lainnya. Dan membuat anak menjadi lebih bahagia karena mereka dapat melakukan bakat dan minat mereka dengan lebih fokus dan hal ini menumbuhkan rasa percaya diri mereka lebih besar karena merasa lebih bermanfaat untuk sesama, mereka melakukan sesuatu yang mereka sukai bukannya dipaksakan untuk melakukan hal yang mereka kurang sukai karena banyak anak jaman sekarang merasa sekolah adalah tekanan daripada kesenangan padahal bagaimana anak kita akan sukses dimasa depannya.
Apabila sejak dini mereka diharuskan menguasai semua mata pelajaran padahal yang mereka sukai hanya beberapa mata pelajaran saja dan mereka dipaksa harus bagus disemua pelajarannya apabila ada salah satu yang jelek mereka dicap bodoh padahal hanya satu pelajaran ,bagaimana hal ini tidak membuat mereka tambah tertekan atau stres inilah yang menyebabkan anak males kesekolah atau menjadi anak yang pemberontak.
Karena keinginan mereka tidak pernah didengar oleh karena itu dengan homeschoooling anak bisa lebih diarahkan untuk mengetahui apa sebenarnya bakat dan minat mereka pribadi, agar mereka dapat lebih mengexplorasi dirinya lebih tajam lagi dan ini membuat mereka menjadi manusia yang unggul, mereka melakukan sesuatu tanpa paksaan karena tidak ada satu orang dewasa pun didunia ini suka dipaksa untuk melakukan sesuatu tanpa dari dalam diri mereka sendiri apalagi anak2 yang juga memiliki bakat ,minat ,karateristik yang berbeda2 .
Data belum lengkap.
Untuk Anda pengelola, silakan login lembaga untuk melengkapi profil dari usaha AndaData belum lengkap.
Untuk Anda pengelola, silakan login lembaga untuk melengkapi profil dari usaha Anda


